Mengapa Ada Kotoran di Hidungku? [dimuat di Kompas Anak edisi 19/02/12]

Pernahkah pertanyaan itu terlintas di benakmu? Kotoran yang sering disebut upil atau tahi hidung itu adalah kotoran bagi tubuh. Selain upil, di dalam rongga hidung juga sering ada ingus. Kedua kotoran itu bertugas menjaga kesehatan paru-paru kita.

Perangkap Mukus

Sebelum kering dan mengeras, upil berbentuk ingus. Ingus adalah air lendir yang keluar dari lubang hidung saat kita bersin, pilek, atau alergi. Bahasa keren ingus adalah mukus, nomina untuk upil. Mukus merupakan lendir yang diproduksi oleh membran mukosa pada rongga hidung. Hidung kita memproduksi seperempat liter mukus setiap hari.

Mukus berfungsi melindungi paru-paru. Udara yang masuk ke dalam hidung mengandung debu, kuman, bakteri, virus, serbuk sari, dan sebagainya. Jika partikel-partikel ini masuk ke dalam paru-paru, maka dapat menyebabkan iritasi, infeksi, dan penyakit. Nah, mukus berfungsi seperti perangkap. Mukus menjebak partikel-partikel tersebut agar tidak terbawa masuk ke paru-paru. Jadi, mukus adalah garis depan pertahanan tubuh melawan infeksi.

Pasukan Mukus

Mukus terbuat dari air, enzim, gula, protein, antibodi, dan garam. Sifat lengket mukus berasal dari musin, yaitu suatu molekul polisakarida. Mukus yang telah bercampur dengan partikel-partikel yang terperangkap tadi akan mengering, yang kemudian disebut upil.

Adalah silia, yaitu rambut-rambut halus di dalam hidung, yang mendorong mukus keluar dari rongga hidung untuk memberi tempat agar mukus baru dapat diproduksi lagi. Berkat silia, kita menyadari ada kotoran di dalam hidung. Upil dapat kering, lembek, bersih atau kotor tergantung dari kondisi tubuh dan lingkungan di sekitar. Continue reading

Advertisements

Kopieditor atau Editor?

Bermula dari menjadi penulis yang mendapat tugas penulisan buku dari kantor (penerbit), pada akhirnya saya juga menjadi editor (saat itu berpikir bahwa job desk saya adalah juga job desk editor). Saya masih belum yakin akan perbedaan editor, kopieditor, dan proofreader. Hingga kini, saya belum pede menyebut diri sendiri seorang editor (walaupun salah satu pekerjaan saya sekarang diberi judul “editor” oleh perusahaan). Mengapa? Dalam pemahaman saya, seorang editor harus sepenuhnya menguasai tata bahasa, ejaan, diksi, maupun struktur kalimat. Sedangkan saya belum menguasai semua hal tersebut. Saat ini saya sedang belajar menuju ke sana. Salah satunya adalah dengan membaca Buku Pintar Penyuntingan Naskah oleh Pamusuk Eneste. Buku ini menjawab keraguan saya mengenai perbedaan kopieditor dan editor. Berikut adalah informasi yang saya baca pada buku tersebut.

Penyunting naskah atau kopieditor dan editor adalah dua hal yang berbeda. Biasanya naskah yang sudah disetujui penerbit akan diserahkan pada editor untuk disunting dari segi materi (substantial editing). Selanjutnya, naskah diserahkan kepada penyunting naskah untuk disunting dari segi kebahasaan (mechanical editing). Continue reading