Entry Fantasy Fiesta 2011: Pimpi dan Peri Air Mata


Dilihat sekilas dari tubuhnya, orang tidak akan menduga usia Pimpi sebenarnya. Terlebih jika mengamati cara dia berbicara, mengomel, merajuk, dan masih banyak lagi. Selain tubuhnya yang menjulang lebih tinggi daripada bocah seusianya, Pimpi juga banyak akal dan pandai berkilah. Pimpi baru berusia tujuh tahun. Tepatnya tujuh tahun lima bulan.

Keluarga Pimpi baru saja pindah ke Desa Linggo. Ayah Pimpi seorang dokter. Sedangkan ibunya adalah pengusaha pupuk. Selama dua tahun, ayah Pimpi akan bertugas di Desa Linggo. Pimpi merupakan anak tunggal keluarga Wampu. Pak Rumbas, nama sopir keluarga Wampu, mengantar ayah Pimpi bertugas setiap hari. Asisten rumah tangga mereka bernama Bibi Jumi. Bibi Jumi sudah puluhan tahun bekerja pada keluarga besar Wampu.

Pimpi tidak memiliki teman. Ia bermain dengan berpuluh-puluh boneka di kamarnya. Merajuk dan mengganggu Bibi Jumi adalah kegiatan yang digemarinya. Meski sering dibuat jengkel, Bibi Jumi sangat menyayangi Pimpi. Pimpi suka mencobakan baju siapa saja kepada boneka beruangnya. Kaos ayah, kemeja ibu, bahkan bajunya sendiri pernah dikenakan boneka beruang berukuran besar itu.

Setelah pindah ke Desa Linggo, Pimpi enggan masuk sekolah. Setiap pagi selalu ada keributan untuk memaksa Pimpi bersekolah. Hari pertama dan kedua bersekolah dia lalui dengan sangat berat. Pada hari pertama, Pimpi sudah mengeluh berbagai hal tentang teman-teman sekolahnya.

“Teman-teman di sekolah bau! Mereka tidak pernah mandi ya, Bi?” “Mereka selalu ingin meminjam mainanku. Hampir semua mau melihat dan memegang bonekaku. Emang mereka gak punya mainan, ya?” begitu keluh Pimpi sepulang sekolah. Continue reading

Advertisements