Resensi: Persekutuan Misterius Benedict

Judul: The Mysterious Benedict Society/Persekutuan Misterius Benedict

Penulis: Trenton Lee Stewart

Penerjemah: Maria M. Lubis

Penerbit: Matahati

Cetakan: Kelima, Juni 2010

Tebal: 576 Halaman

Membaca novel ini membuat saya terkenang masa kecil. Saat itu saya keranjingan buku-buku detektif karya Enid Blyton, misalnya Lima Sekawan, Sapta Siaga, Seri Petualangan, Seri Sirkus, dan lain sebagainya. Tak jauh berbeda, Persekutuan Misterius Benedict menghadirkan petualangan empat anak berbakat dalam misi yang lebih canggih dan modern.

Persekutuan Misterius Benedict merupakan nama kelompok empat anak berbakat yang direkrut oleh seorang jenius bernama Mr. Benedict. Melalui iklan di koran, Mr. Benedict mengadakan tes untuk menyaring bibit-bibit muda. Di akhir tes yang diikuti ratusan anak, hanya empat anak istimewa yang lulus. Mereka adalah Reynie, Sticky, Kate, dan Constance. Keempat anak tersebut memiliki latar belakang yang mirip. Reynie seorang yatim piatu, Sticky adalah bocah yang tidak diinginkan orang tuanya, Kate sejak kecil sebatang kara hidup bersama rombongan sirkus, sedangkan Constance tidak mengetahui orang tuanya.

Mr. Benedict mengumpulkan keempat anak tersebut untuk dididik dalam sebuah rumah rahasia. Ternyata, merupakan kebiasaan Mr. Benedict untuk merekrut anak-anak. Beberapa angkatan terdahulu kelompok bikinan Mr. Benedict ini lantas menjadi asistennya, yaitu Rhonda, Si Nomor Dua, dan Milligan. Dalam waktu singkat anak-anak harus mempelajari misi, menghapalkan kode Morse, sekaligus saling menyesuaikan diri dengan karakter teman baru mereka. Reynie pandai memecahkan teka-teki dan memiliki sifat pemimpin. Sticky adalah pembaca cepat dan penghapal yang hebat namun mudah gugup dan tidak percaya diri. Kate si gadis periang bertubuh lentur dan selalu banyak akal dengan ember yang selalu dibawa kemana-mana. Constance adalah bocah bertubuh mungil yang keras kepala, pemberontak, dan mudah marah.

Misi mengharuskan mereka bersekolah sambil menyamar di Institut bernama LIVE ( Learning Institute for the Very Enlighted). Institut tersebut milik seorang ilmuwan bernama Mr. Curtain yang berencana mengacaukan dunia dengan mesin temuannya, yaitu Sang Pembisik. Mr. Curtain menyampaikan pesan-pesan tersembunyi melalui siaran televisi dan radio. Pesan-pesan ini menembus alam bawah sadar manusia, memodifikasi otak serta mengubah perilaku. Di sinilah kekompakan tim diuji. Mereka harus belajar keras (dan belajar mencontek) untuk meraih nilai sempurna agar cepat dilantik menjadi Penyampai Pesan, sebuah strata yang lebih tinggi, yaitu dengan harapan dapat membongkar rahasia Mr. Curtain. Sungguh, tidak mudah belajar sekaligus menolak pesan-pesan tersembunyi yang merecoki pikiran keempat anak tersebut.

Selain belajar, keempat anak tersebut harus memata-matai aktivitas di Institut. Mereka mengadakan rapat rahasia di kamar anak laki-laki setiap malam. Setelah itu mereka melaporkan perkembangan dalam bentuk kode Morse kepada tim Mr. Benedict di daratan. Ada kalanya mereka kewalahan memecahkan balasan yang berbentuk teka-teki. Mereka juga harus mencari jalan untuk menyusup ke dalam Gedung Pengendali. Banyak adegan lucu dan tegang yang terjadi dalam aktivitas memata-matai tersebut.

Membaca novel ini terasa menyenangkan. Pembaca dengan mudah berimajinasi tentang pesan rahasia berbentuk Morse, sekolah asrama dengan puncak seperti kastil dan lorong rahasia, akrobatik Kate, bahkan senior-senior yang sok tau namun bodoh. Walau isu yang diangkat cukup berat bagi anak-anak, penulis mampu menyajikan adegan, humor, dan dialog-dialog yang menghibur. Misalnya saja Mr Benedict, penderita narcolepsy yang akan tertidur mendadak setelah tertawa terbahak-bahak. Atau bayangan saya tentang si mungil Constance penggerutu yang sering digendong Kate karena memperlambat langkah tim. Saya menemukan penggunaan idiom canary in a coal mine yang membuat saya teringat pada lagu The Police. Novel ini sekilas menyinggung tentang The Art of War, sebuah strategi yang diiingat oleh Sticky.

Persekutuan Misterius Benedict memiliki role model yang bagus untuk anak-anak. Pesan moralnya adalah persahabatan, kepahlawanan, dan bisa menerima kekurangan orang lain. Keempat tokoh memiliki ketakutan masing-masing hingga pada akhirnya semua belajar untuk mengatasi ketakutan tersebut. Reynie yang dianggap pemimpin kelompok pun secara rendah hati mengatakan bahwa ia membutuhkan Sticky untuk tetap di sampingnya. Bahkan pada saat darurat, ketika Kate tergoda untuk meninggalkan Constance (karena memperlambat langkahnya), ia teringat nasehat Mr. Benedict bahwa mereka harus saling mengandalkan dan melindungi.

The Mysterious Benedict Society adalah novel anak-anak perdana karya Trenton Lee Stewart. Stewart berkebangsaan Amerika yang lahir pada tahun 1970. Ide menulis novel ini muncul dari pengamatannya bahwa anak-anak sering terlihat  namun jarang didengar dan sering diremehkan. Novel ini mengantongi beberapa penghargaan, antara lain 2008 ALA Notable Book, Top Ten Children’s Book Sense Pick, 2007 School Library Journal Best Book, dan 2008 E.B. White Read Aloud Award for Older Readers serta menjadi bestseller di New York Times dan Publishers Weekly.

Hal yang sedikit menganggu dalam novel ini adalah misi yang terlalu berat bagi anak-anak serta kalimat-kalimat filosofis yang kadang sulit dicerna. Pemilihan font yang apik membuat novel ini ramah mata. Sayangnya, kenikmatan membaca banyak terganggu oleh typo di sana-sini. Semoga sekuel selanjutnya sudah bebas typo. Oh ya, salut untuk Ella Elviana yang membuat ilustrasi dan desain kover yang sangat menarik.

2 thoughts on “Resensi: Persekutuan Misterius Benedict

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s