Resensi: Something Wonderful

Judul: Something Wonderful/Sesuatu yang Indah

Penulis: Judith McNaught

Penerjemah: Ratih Susanty

Penerbit: Gramedia

Cetakan: Februari 2011

Tebal: 664 Halaman

Air dan api. Saling melengkapi atau bertolak belakang? Seperti itulah karakter dua tokoh utama dalam novel ini. Alexandra adalah gadis desa lugu yang jujur, periang, dan optimis. Ajaran yang diberikan kakeknya, satu-satunya orang yang benar-benar peduli pada Alexandra, telah membuat gadis itu tumbuh mandiri, cerdas, berwawasan luas, dan berani. Sepeninggal kakeknya, Alexandra mempercayai bahwa suatu hari nanti, sesuatu yang indah akan terjadi. Tidak lama kemudian, ayah Alexandra meninggal. Alexandra dan ibunya terkejut ketika mendapat kunjungan mendadak dari seorang wanita dan gadis yang mengaku istri dan anak dari mendiang suaminya. Ibu Alexandra yang depresi akan pengkhianatan suaminya menyerahkan beban rumah tangga pada putrinya. Alhasil sejak usia 14 tahun, Alexandra telah mampu menghidupi dan memberi makan anggota keluarganya yang “aneh”.

Sementara itu, seorang Duke of Hawthorne bernama Jordan adalah playboy yang meyakini bahwa semua wanita itu bodoh dan mata duitan. Pergaulan bangsawan dan masa lalunya membuat kepribadian Jordan sinis, angkuh, dan tidak bisa mempercayai siapa pun. Pesona ketampanan Jordan membuat para wanita bangsawan berlomba-lomba untuk mendapatkan dirinya, namanya, sekaligus harta dan kekuasaannya.

Pada suatu ketika nasib mempertemukan Alexandra dan Jordan. Peristiwa penyelamatan Jordan oleh Alexandra ternyata berujung pada keputusan sulit. Mau tidak mau, Jordan harus menikahi gadis lugu itu. Jordan pun melakukannya atas dasar rasa kasihan belaka.

Tanpa disangka, keceriaan dan kelembutan gadis itu mulai mencuri hati Jordan. Kegemaran Alexandra mengutip kalimat filsuf membuatnya tampak berbeda dari gadis kebanyakan. Adegan-adegan selanjutnya banyak membuat pembaca tergelitik akibat kepolosan Alexandra. Sebutlah satu adegan ketika Jordan berusaha mencium Alexandra untuk pertama kalinya.

Bingung mendengar begitu banyak peraturan dalam ciuman, Alexandra melihat ke bawah ….. akhirnya mengangkat matanya dengan malu untuk menatap mata Jordan. “Dimana harus kuletakkan tanganku?”

Jordan menahan tawanya …….. ia bertanya, “Kau ingin meletakkannya di mana?”

“Di dalam kantongku?” usul Alexandra penuh harap.

Alexandra yang polos dengan mudah jatuh cinta tanpa ampun kepada Jordan. Walau demikian, Jordan belum berniat memposisikan gadis itu sebagai istri yang sebenarnya. Bahkan Jordan berencana menempatkan Alexandra di salah satu rumahnya di Devon lalu mengunjunginya bila ia sedang ingin.

Empat hari setelah pernikahan, Jordan mendadak hilang. Alex yang cinta mati sangat sedih dan merana. Ia berniat pulang ke desa namun dicegah oleh sang nenek, Dowager Duchess. Alexandra pun terpaksa melanjutkan hidup bersama sang Dowager yang galak, sinis dan angkuh. Dowager bersikeras untuk mendidik Alexandra yang keras kepala. Satu-satunya alasan yang membuat Alexandra mau menjalaninya adalah karena ia ingin menunjukkan bahwa ia layak menyandang nama Jordan serta mengabdikan dirinya untuk menjaga kesetiaan pada mendiang suaminya itu.

Alexandra memulai debutan pertamanya di London season. Ia berusaha keras agar diterima di kalangan bangsawan. Banyak orang menganggapnya bodoh dan naif gara-gara sikap memuja yang berlebihan terhadap Jordan. Lalu bagaimana cara Alexandra hingga ia akhirnya bisa menjadi primadona para pria? Dowager yang gelisah pada “perkembangan” Alexandra yang baru akhirnya memutuskan cara untuk menyelamatkan harga diri janda Jordan itu.

Tanpa disangka, Jordan muncul dalam sebuah acara penting yang melibatkan Alexandra dan seluruh bangsawan. Jordan murka melihat peristiwa tersebut. Ia benci mendapati istrinya yang lugu telah menjadi wanita idaman yang cantik, pandai merayu serta oportunis. Jordan berusaha keras untuk mendapatkan dan menguasai Alexandra. Sementara Alexandra yang sudah mengetahui masa lalu dan sisi buruk Jordan bertekad untuk melepaskan diri dari suaminya yang ternyata masih hidup.

Di bab-bab akhir pembaca dibuat gemas dengan pertengkaran, kecurigaan, dan sifat keras kepala Jordan dan Alexandra. Penggemar kisah romantis pasti menyukai novel yang bertaburan kata-kata indah ini. Namun bagi yang tidak terbiasa membaca roman, barangkali akan menemukan alur cerita yang berjalan lambat dengan adegan dan percakapan yang panjang. Ending novel ini mudah ditebak hanya dari melihat judulnya. Walau demikian, penulis berhasil menggiring pembaca merasa geli, sedih, jengkel dan sayang sekaligus pada dua karakter utama novel ini.

Sang penulis, Judith McNaught adalah novelis dengan spesialisasi historical romance. Novelnya yang berjudul “Whitney, My Love” yang juga telah dialihbahasakan oleh Penerbit Gramedia, mendapat penghargaan Romantic Times Award for Best New Historical pada tahun 1985. Alih bahasa novel ini digarap dengan baik dengan bahasa yang luwes sehingga enak dibaca. Walau tidak fatal, namun masih terdapat sedikit typo di novel ini.

Saya menyukai kutipan bikinan Alexandra berikut.

“Jika menjadi kaya membuatmu tidak bisa bersantai dan menikmati hidup, maka harga sebuah kekayaan itu terlalu tinggi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s