Resensi: The Count of Monte Cristo


Judul: The Count of Monte Cristo

Penulis: Alexandre Dumas

Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 568 halaman

Kita menuai apa yang kita tanam. Pepatah tersebut terasa lekat dalam novel ini. Cerita mengisahkan tentang seorang pelaut muda yang jujur, berani, dan penuh semangat bernama Edmon Dantes. Pada usia 19 tahun, ia akan segera menikahi kekasih cantiknya, Mercedes, sekaligus diangkat menjadi kapten kapal Pharaon. Namun, pada hari pernikahannya, ia mendadak dituduh dan dimasukkan ke penjara. Secara misterius, jaksa penuntut umum Villefort menjebloskan Dantes ke penjara Château d’If, yaitu penjara untuk kriminal kelas berat

Di tengah deritanya, nasib baik masih melongok Dantes. Kehadiran seorang tahanan bernama Abbe Faria membukakan mata Dantes akan adanya suatu persekongkolan. Dalam dingin dan gelapnya sel bawah tanah itu pula Dantes mempelajari segala sesuatu yang kelak sangat berguna. Suatu rahasia yang diberikan oleh Faria menambah lengkap amunisi Dantes untuk balas dendam. Hingga pada suatu ketika nama Dantes lenyap dan muncul nama baru, yaitu The Count of Monte Cristo yang segera menjadi populer di kalangan masyarakat Paris.

Sebagian besar setting novel mengambil lokasi di Paris dan Marseille pada tahun 1815, yaitu saat Napoleon Bonaparte berhasil melarikan diri dari Pulau Elba. Dumas lincah menuntun pembaca menyaksikan setiap detail langkah Dantes untuk balas dendam. Hampir setiap halaman mampu membuat pembaca menahan napas, tegang, dan akhirnya (saya) membaca cepat atau mengintip halaman berikutnya untuk memenuhi rasa penasaran lalu kembali lagi ke halaman semula. Kecerdasan penulis pula yang membuat tokoh-tokoh yang semula (menurut kita) tidak kenal menjadi saling terhubung karena sebuah peristiwa. Bahkan saya sering merenung sejenak untuk mengingat yang mana si A yang melakukan B yang berhubungan dengan C. Penulis tahu betul saat yang tepat untuk menyimpan, lalu menghadirkan “bom” dalam sebuah adegan. Padahal, banyak sekali “bom” di novel ini yang membuat saya tercengang sekaligus kagum akan kepiawaian penulis.

Bentang Pustaka menggarap alih bahasa novel ini dengan menghadirkan penerjemah senior, yakni Nin Bakdi Soemanto, istri dari Bakdi Soemanto, sebuah nama yang tidak asing lagi di dunia sastra. Terjemahan bahasa Indonesianya masih berbau sastra. Saya sering membaca ulang satu kalimat yang panjangnya bisa mencapai 5 baris untuk memahami maknanya. Untungnya, peletakan tanda baca yang tepat sangat membantu untuk memahami kalimat panjang tersebut. Terdapat beberapa typo di novel ini yang jumlahnya masih tergolong wajar.

Rumit. Cerdas. Sempurna.

*Resensi juga dapat dibaca di http://www.bruku.com/2011/05/the-count-of-monte-cristo/ dan http://www.goodreads.com/review/show/162262146

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s