Tips Menulis Buku

books

* Mulailah menulis, apa saja. Baik itu nonfiksi, fiksi, fantasi, biografi, misteri, apapun yang menarik perhatian Anda. Anda tidak perlu merisaukan tentang tata bahasa, dan sebagainya.

* Temukan tempat tenang dan santai. Anda bisa saja menulis di ruang tidur, kantor, taman, cafe, dan sebagainya. Sebaiknya hindari lokasi dimana teman-teman Anda sering berkumpul.

* Sediakan waktu untuk menulis. Seringkali kita memerlukan beberapa saat sebelum kita mendapat ide tulisan. Alokasikan waktu setidaknya dua jam untuk mengerjakan tulisan Anda.

* Tentukan topik buku Anda. Apakah di pasar sudah banyak tersedia buku sejenis? Apakah sekiranya pembaca akan membeli buku Anda? Jika Anda menginginkan buku dijual untuk umum, pastikan Anda memiliki target pasar sebelum waktu dan biaya terlanjur dikeluarkan.

* Buatlah kerangka sebelum Anda mulai menulis. Kerangka tulisan membantu Anda agar tetap fokus pada proyek yang Anda kerjakan. Untuk buku fiksi, buatlah kerangka alur cerita. Misalnya kapan karakter A dimunculkan, alur awal, tengah dan akhir jalan cerita. Demikian juga untuk buku non fiksi. Susun informasi, data, fakta dalam urutan yang logis.

* Pilih judul buku dengan cermat. Judul buku bukan hanya untuk mengundang rasa ingin tahu. Untuk beberapa buku fiksi dan non fiksi, judul buku Anda biasanya digunakan sebagai kata kunci dalam mesin pencari.

* Setelah tulisan selesai, manfaatkan jasa editor profesional untuk membetulkan kesalahan Anda.

4 thoughts on “Tips Menulis Buku

    • Wah, saya malah belum pernah menulis sinopsis/skenario film. Barangkali saya bisa belajar dari Anda ☺

      Setahu saya, dalam menulis fiksi, misalnya novel, juga membutuhkan sinopsis. Sinopsis tersebut berfungsi sebagai selling point penulis untuk penerbit. Dari situ, penerbit bisa memutuskan apakah mereka berniat menerbitkan naskah tersebut atau tidak. Sinopsis ini seperti ancang-ancang/perkiraan isi buku.

      Kalau untuk isi fiksi itu sendiri saya rasa tingkat detilnya lebih rendah daripada skenario film. Memang di dalamnya ada alur, penokohan, setting dan sebagainya. Disinilah pembaca menerjemahkan sendiri imajinasi mereka. Lain halnya dengan skenario yang menerjemahkan secara visual. Bahkan pemanjangan dari satu paragraf menjadi beberapa dialog. Dalam fiksi gaya bertutur dengan rangkaian kalimat yang berstruktur lebih dominan. Sedangkan dalam skenario lebih banyak dijumpai kalimat-kalimat pendek yang merincikan sesuatu.

      Maaf bila pemahaman saya terbatas ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s